Rabu, 04 Juli 2012

askep obesitas


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dewasa ini masalah kegemukan (obesitas) merupakan masalah global yang melanda masyarakat dunia baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Perubahan gaya hidup termasuk kecenderungan mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi merupakan faktor yang mendukung terjadinya obesitas.
Sebagian besar kegemukan dan obesitas adalah karena makan berlebihan. Hal ini tergolong dalam obesitas primer. Sisanya, disebabkan karena penyakit atau gangguan hormonal atau kelainan genetis yang tergolong dalam obesitas sekunder.
Berbagai upaya untuk melangsingkan tubuh telah banyak dilakukan diantaranya dengan pengaturan makanan, merubah gaya hidup, pemberian obat dan pembedahan untuk mengurangi lemak atau mengangkat sebagian usus.
Asupan makanan harus selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh dan juga tidak berlebihan sehingga menyebabkan obesitas.Juga, karena makanan yang berbeda mengandung proporsi protein, karbohidrat, dan lemak yang berbeda-beda, maka keseimbangan yang wajar juga harus dipertahankan diantara semua jenis makanan ini sehingga semua segmen sistem metabolisme tubuh dapat dipasok dengan bahan yang dibutuhkan.
Atas dasar inilah, penulis mengangkat judul ” OBESITAS” dalam askep ini. Penulis berharap keberadaan makalah ini dapat menambah wawasan para pembaca, khususnya mahasiswa STIKES BU BOJONEGORO.

B. TUJUAN
      Tujuan penulisan askep ini adalah menambah wawasan mahasiswa mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan obesitas.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  1. KONSEP DASAR
1.      Definisi
Kegemukan ( obesitas )didefinisikan sebagai kelebihan akumulasi lemak Tubuh sedikitnya 25% dari berat rata-rata untuk usia., jenis kelamin, dan tinggi badan. Prognosis umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk. Namun, keinginan pola hidup lebih sehat Dn penurunan factor risiko sehubungan dengan ancaman penyakit terhadap hidup memotivasi beberapa orang untuk mengikuti diet dan program penurunan berat badan.
Obesitas juga merupakan suatu keadaan patologis dengan terdapatnya penimbuan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Masalah gizi karena kelebihan kalori biasanya disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan serat dan mikro nutrien. Nutrien yang kelak dapat merupakan faktor resiko untuk terjadinya berbagai jenis penyakit degeneratif seperti ; DM, hipertensi, penyakit jantung koroner, reumatik dan berbagai jenis penyakit keganasan (kanker) dan gangguan kesehatan lain yang akan memerlukan biaya pengobatan yang sangat besar.
2.      Etiologi
Faktor yang menentukan antara lain :
a. Faktor Genetik
Obesitas secara pasti terjadi secara familial. Lebih lanjut, kembar identik biasanya mampu mempertahankan selisih berat badan sekitar 2 pon antara keduanya sepanjang hidup mereka., jika mereka hidup dalam lingkungan yang sama, atau sekitar 5 pon jika lingkungan hidup mereka berbeda dengan nyata. Hal ini sebagian terjadi karena kebiasaan makan yang berasal dari masa kanak-kanak, tetapi biasanya diyakini bahwa ada kemiripan yang dekat antara kedua anak kembar  yang dikendalikan secara genetik.
Gen dapat mengatur tingkat makan dengan berbagai cara , termasuk (1) kelainan genetik pusat makan untuk mengatur tingkat penyimpanan energi tinggi atau rendah, dan (2) kelainan faktor psikis secara herediter, baik yang meningkatkan nafsu makan, atau menyebabkan orang tersebut makan sebagai mekanisme ” pelepasan”.

Kelainan genetik pasda sifat kimiai penyimpanan lemak juga diketahui menyebabkan obesitas pada beberapa turunan tikus dan mencit. Pada suatu turunan tikus, lemak mudah disimpan dalam jaringan asdiposa, tetapi jumlah lipase peka hormon dalam jaringan asdiposa sangat berkurang, sehingga hanya sedikit lemak yang dapat dikeluarkan. Keadaan ini jelas menyebabkan jalur satu arah, lemak secaran terus menerus disimpan walaupun tidak pernah dilepaskan . Pada satu turunan muncit yang gemuk. Terdapat kelebihan sintetase asam lemak. Oleh sebab itu, mekanisme genetik yang serupa merupakan penyebab obesitas yang mungkin pada manusia.
b.  Faktor Psikologis (gangguan emosi)
Penelitian penderita obesitas menunjukkkan bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh faktor psikogenik. Barangkali faktor psikogenik yang paling sering berperan pada obesitas adalah gagasan yang berbahaya bahwa kebiasaan makan yang sehat memerlukan tiga kali sehari, dan setiap kali makan harus penuh. Banyak anak dipaksa mengikuti kebiasaaan ini oleh para orang tua yang terlalu bersemangat, dan anak-anak terus melanjutkan kebiasaan tersebut sepanjang hidupnya. disamping itu, biasanya seseorang diketahui mengalami kenaikan berat badan yang besar selama atau setelah keadaan yang menekan, seperti kematian orang tua, penyakit yang berat, atau karena depresi kejiwaan. Tampaknya bahwa makan seseringkali merupakan alat pelepas ketegangan.
c. Faktor Neurogenik ( gangguan hormon)
Lesi pada nukleus ventromesdialis hipotalamus menyebabkan binatang makan secara berlebihan dan menjadi gemuk. Lesi yang sedemikian juga menyebabkan kelebihan produksi insulin, yang selanjutnya meningkatkan penyimpanan lemak.Juga, kebanyakan penderita tumor hipofisis yang menekan hipotalamus wenjadi gemuk secara bertahap, sehigga menggambarkan bahwa obesitas pada manusia, juga dapat dengan pasti dihasilkan karena kerusakan hipotalamus.
Namun pada orang gemuk normal, hampir tidak ditemukan adanya kerusakan hipotalamus.Walaupun demikian, mungkin bahwa pengaturan fungsional hipotalamus atau pusat makan neurogenik lain berbeda dengan orang gemuk, dibandingkan dengan orang yang tidak gemuk.
d. Faktor Nutrisi
Laju pembentukan sel baru terutama cepat ada beberapa tahun pertama kehidupan, dan semakin besar laju penyimpanan lemak. Pada anak yang gemuk, jumlah sel seringkai sampai 3 kali lipat jumlah selemak pada anak normal. Walaupun demikian, setelah akil balik, jumlah sel lemak tetap hampir sama sepanjang sisa kehidupan.Oleh karena itu telah disarankan bahwa kelebihan nutrisi pada anak terutama pada masa bayi dan sebagian kecil selama masa kanak-kanak yang lebih lanjut, dapat menyebabkan obesitas sepanjang hidup. Orang yang mempunyai kelebihan sel lemak dianggap memiliki pengaturan lemak lebih tinggi oleh mekanisme otoregulasi umpan balik neurogenik untuk pengendalian jaringan adsiposa.
Pada orang yang ,menjadi gemuk pasda usia pertengahan atau pada usia tua, sebagian besar obesitas disebabkan oleh hipertrofi dari sel lemak yang sudah ada, tanpa disertai perkembangan sel tambahan. Jenis pengobatan ini lebih peka terhadap pengobatan daripada jenis obesitas sepanjang hidup.
e. Aktivitas fisik
Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.
3.      Patofisiologi
Obesitas terjadi karena adanya  kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%).
Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis,  yaitu : pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon. Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen (yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan adipose,  usus dan jaringan otot). Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang.  Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang diperankan oleh kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan  energi.
Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi Neuro Peptide –Y (NPY), sehingga terjadi penurunan nafsu makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan.
4.      Tanda dan Gejala
Anak terlihat sangat gemuk dan umunya lebih tinggi daripada anak normal seumur. Sering terlihat dagu yang berganda (double chin). Buah dada seolah-olah berkembang. Perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat. Kedua tungkai umumnya berbentuk huruf x dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempelmenyebabkan laserasi dan ulserasi yang dapat menimbulkan bau yang kurang sedap. Pada anak laki-laki, penisnya terlihat kecil karena sebagian organ tersebut tersembunyi dalam jaringan lemak pubis.
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.


5.      Komplikasi
Faktor kesehatan. Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:
è    Hipotiroidisme
è    Sindroma Cushing
è    Sindroma Prader-Willi
è    Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.
è    Obat-obatan.
Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.
Faktor perkembangan. Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel
Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang. Obesitas meningkatkan risiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti:
è    Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa)
è    Tekanan darah tinggi (hipertensi)
è    Stroke
è    Serangan jantung (infark miokardium)
è    Gagal jantung
è    Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar)
è    Batu kandung empedu dan batu kandung kemih
è    Gout dan artritis gout
è    Osteoartritis
è    Tidur apneu (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah)
è    Sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi dan ngantuk).


6.      Penatalaksanaan Kolaboratif
Umumnya pengobatan pada obesitas ditunjukkan pada program perbaikan gizi. Namun demikian perlu diperhatikan pula tentang faktor psikososial yang mengizinkan atau memperkuat sikap anak untuk makan banyak dan kurang bergerak. Untuk itu penanganan obesitas melibatkan dokter anak, psikologi perkembangan psikiater anak, pekerja sosial, ahli gizi, dan perawat. Keterlibatan keluarga adalah mutlak unutk keberhasilan terapi.
Dalam pengaturan makanan anak obesitas perlu diperhatikan beberapa di bawah ini :
a.       Kalori : Harus sesuai dengan kebutuhan normal, dihitung berdasarkan BB ideal yang sesuai untuk TB saat itu.
b.      Diet seimbang : karbohidrat 50% kalori, lemak 35% kalori, protein cukup untuk tumbuh kembang normal.
c.       Pembagian kalori harus sedemikian rupa, sehingga salah satu porsi tidak boleh melebihi 1000 kalori.
d.      Entuk dan jenis makanan harus yang dapat diterima oleh anak  serta tidak dipaksa makan makanan yang tidak disukai
e.       Tidak ada petunjuk khusus tentang jenis makanan yang dilarang atau diretriksi tanpa alasan.

Untuk meningkatkan penggunaan energi, latihan jasmani yang lbih intensif menjadi pilihan pertama. Pilihlah kegiatan yang disukai anak tersebut sesuai dengan umurnya.
Menurunkan berat badan dengan obesitas berat sebaiknya tidak melebihi 500 g tiap minggunya. Untuk menurunkan BB sebanyak 500g tiap minggu. Jumlah energi yang harus dikurangi setiap minggunya kira-kira 3250 kkal atau tiap harinya 450-500 kka. Perhatikan faktor lingkungan bilamana terdapat gangguan emosional, maka psikoterpi diperlukan.  
B.     ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
a.Riwayat
 Identitas
Nama               : Nn. L
Jenis Kelamin  : Perempuan
Umur               : 21 tahun
Pendidikan       : Mahasiswi
Pekerjaan         :Mahasiswi
Status              : Belum kawin
Agama             : Islam
Alamat             : Bojonegoro
à   Riwayat Kesehatan
o       Keluhan utama
Pasien mengatakan susah sekali berdiri sehabis duduk dari lantai.
o       Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien tidak mengalami keluhan apa-apa selain merasakan berat badannya semakin bertambah, disamping itu pasien mengalami kesusahan untuk berdiri sehabis duduk dari lantai.
o       Riwayat Kesehatan Dahulu
Sebelumnya pasien memiliki berat badan yang normal tapi setelah 2 tahun kemudian berat badan pasien mengalami perubahan.
o       Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami obesitas.
b.      Pemeriksaan Fisik
¤     Aktivitas / Istirahat
Gejala     :
-          Kelemahan, cenderung terus mengantuk
-          Ketidakmampuan / kurang keinginan untuk aktif atau melakukan latihan teratur
-          Dispnea dengan kerja
Tanda     :
-          Peningkatan kecepatan jantung / pernafasan dengan aktivitas
¤     Sirkulasi
Gejala     :
-          Riwayat factor budaya / pola hidup mempengaruhi pilihan makan
-          Berat badan dapat / tak dapat diterima sebagai masalah
-          Makan menghilangkan perasaan tak senang, misalnya : kesepian, frustasi, kebosanan
-          Persepsi gambaran diri sebagai tak dapat diinginkan
-          Tahanan orang terdekat untuk menurunkan berat badan (dapat menyabotase upaya pasien)
¤     Makanan / Cairan
Gejala     :
-    Mencerna makanan dengan berlebihan / normal
-    Percobaan dengan berbagai tipe diet
-    Riwayat berulangnya penurunan dan peningkatan berat badan
Tanda     :
-    Berat badan tak tepat dengan tinggi badan
-    Tipe tubuh endormofik (halus / sekitar)
-    Gagal untuk menentukan masukan makanan untuk menurunkan kebutuhan (contoh : perubahan pola hidup dari aktif menjadi tak berolahraga, penuaan)
¤     Nyeri / Kenyamanan
Gejala     : Nyeri / ketidaknyamanan pada sendi yang menopang berat badan atau tulang belakang
¤     Pernafasan
Gejala     : Dispnea
Tanda     : Sianosis, distress pernafasan (sindrom pickwickian)
¤     Seksualitas
Gejala     : Gangguan menstruasi, amenorea
¤     Penyuluhan / pembelajaran
Gejala     :
-    Masalah dapat berupa masa hidup atau sehubungan dengan peristiwa hidup
-    Riwayat keluarga kegemukan
-    Masalah kesehatan yang menyertai termasuk hipertensi diabetes, penyakit kandung empedu dan kardiovaskuler, hipotiroidisme
c.  Pemeriksaan Diagnostik
                     Pemeriksaan metabolik / endokrin dapat menyatakan tak normal, misal : hipotiroidisme, hipopituitarisme, hipogonadisme, sindrom cushing (peningkatan kadar insulin). Ini juga diduga bahwa penyebab gangguan ini dapat menimbulkan neuroendokrin abnormal dalam hipotalamus yang mengakibatkan berbagai gangguan kimia.



d.      Pengkajian Psikososial
1.      Psikologi pasien
Pasien dapat menerima dengan keadaan yang dialami sekarang dan merasa enjoy atas apa yang dianugerahkan meski terkadang merasa minder.
2.      Sosial
Pasien berinteraksi dan bergaul dengan lingkungannya dengan baik dapat menerima dan diterima oleh orang lain.

2.      Diagnosa Keperawatan
àDX 1: Peerubahan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh b/d Masukan makanan yang lebih dari kebutuhan tubuh
Etiologi : Berat badan 20% atau lebih dari berat badan optimum; kelebihan lemak tubuh dengan lipatan kulit/ pengukuran lain.
Melaporkan/observasi disfungsi pola makan, masukan lebih dari kebutuhan tubuh.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan:
    1. Mengidentifikasi perilaku dan konsekuensi sehubungan dengan makan berlebihan dan peningkatanberat badan
    2. Menunjukkan perubahan pola makan dan keterlibatan individu dalam program latihan
    3. Menunjukkan penurunan berat badan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.
  à DX 2 : Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
Etiologi :         a. Kurang/ salah interpretasi informasi
                         b. Kurang tertarik belajar, kurang mengingat
                        c. Tidak akurat/ tidak menyelesaikan informasi yang ada.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
a.       Pernyataan kurang/ permintaan informasi tentang kegemukan dan kebutuhan nutrisi
b.      Pernyataan masalah dengan penurunan berat badan
c.       Tidak adekuat mengikuti diet sebelumnya dan mengikuti instruksi latihan


Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan :
A.    Menyatakan tanggung jawab untuk belajarnya sendiri
B.     Mulai mencari informasi  tentang nutrisi dan cara mengontrol berat badan
C.     Menyatakan pemahaman kebutuhan untuk perubahan pola hidup untuk mmempertahankan/mengontrol berat badan
D.    Mem buat tujuan individu dan rencana untuk pencapaian tujuan tersebut.
  
3.     Intetvensi dan Implementasi
a. Diagnosa 1
1.      Kaji penyebab individu kegemukan, misalnya; organik atau non organik à Memberikan kesempatan kepada individu memfokuskan/internalisasi gambaran nyata atau jumlah makanan yang dimakan dan penyesuaian kebiasaan makan/perasaan. Mengidentifikasi Pola yang memerlukan perubahan dan/atau dasar menyesuaikan program diet.
2.      Buat rencana makan dengan pasien à Sementara tak ada dasar untuk menganjurkan diet yang satu dari yang lain, penurunan diet yang baik harus berisi makannan dari semua dasar kelompok makanan dengan fokus masukan rendah lemak. Ini membantu mempertahankan rencana semirip mungkin dengan kebiasaan pasien. Rencana dibuat dengan dan persetujuan pasien akan lebih berhasil.Catatan : Penting mempertahankan masukan protein adekuat untuk mencegah kehilangan massa otot.
3.      Tekankan pentingnya menghindari diet berlemak à Hilangkan kebutuhan komponen yang dapat menimbulkann kelemahan, sakit kepala, ketidakstabilan dan kelemahan, asidosis metabolik (ketosis) mempengaruhi keefektifan program penurunan BB
4.      Timbang berat badan secara 2 kali seminggu à Memberikan informasi tentang keefektifan program terapi dan memperlihatkan bukti keberhasilan upaya pasien selama perawatan di rimah sakit
5.      Konsul dengan ahli dietuntuk menentukan kalori/kebutuhan nutrisi untuk penurunan berat badan individu à pemasukan individu dapat dikalkulasi dengan berbagai perhitungan berbeda, tetapi penurunan berat badan berdasarkan pada kebutuhan basal kalori selama 24 jam, tergantung pada jenis kelamin,usia, berat badan saat ini/yang diinginkan dan lama waktu yang diperkirakan mencapai berat badan yang diinginkan.

b. Diagnosa 2
           
1.      Tentukan tingkat pengetahuan nutrisi dan apakah keyakinan pasien adalah kebutuhan paling penting.
2.      Berikan informasi tentang cara mempertahankan pemasukan makanan yang memuaskan di lingkungan yang jauh dari rumah à “pintar” makan bila makan di luar atau bila dalam perjalanan, membantu individu untuk mengatur berat badan sementara masih menikmati hubungan sosial.
3.      Identifikasi sumber-sumber informasi lain, contoh buku-buku, rekaman, kelas masyarakat, kelompok à Dengan mmenggunakan kesempatan yang berbeda untuk mengakses informasi akan melanjutkan belajar pasien. Keterlibatan dengan orang lain yang juga menurunkan berat badan dapat memberikan dukungan.
4.      Tekankan perlunya melanjutkan evaluasi perawatan/konseling, khususnya bila tak ada kemajuan à sesuai dengan penurunan berat badan, terjadi perubahan metabolisme, mempengaruhi penurunan selanjutnya dengan membuat kestabilan sebagai mekanisme bertahan hidupn dari aktivitas tubuh. Upaya untuk mencegah kelaparan.Ini memerlukan strategi baru dan dukungan agresif untuk melanjutkan penurunan berat badan.
5.      Kaji ulang kebutuhan kalori tiap 2-4 minggu à perubahan dalam berat badan dan latihan dapat berarti mengubah penurunan diet.
6.      Identifikasi alternatif untuk pilihan program aktivitas sesuai menyesuaikan cuaca, perjalanan, dan sebagainya. Diskusikan penggunaan alat mekanik/alat untuk penurunan à Meningkatkan kelanjutan program. Catatan : Penurunan lemak terjadi pada dasar umum keseluruhan, dan tak ada bukti bahwa titik penurunan atau alat mekanik untuk penurunan berat badan dalam area khusus. Namun,tipe khusus latihan atau alat dapat berguna dalam meningkatkan tonus bagian tubuh tertentu.
7.      Diskusikan perlunyaperawatan kulit yang baik, khususnya selama bulan musim panas à mencegah kerusakan kulit pada kelembaban lipatan kulit.
8.      Identifikasi pilihan cara untuk penguatan diri/keluarga untuk menyelesaikan atau memberikan penghiburan à Menurunkan kemungkinan menyadarkan diri pada makan untuk menghadapi perasaan
                   
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan planing yang telah dibuat.

4.      Discharge Planing
                                          Rencana Pemulangan : memerlukan dukungan dengan program teraupetik
PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Membantu pasien mengidentifikasi metode yang dapat bekerja untuk mengontrol berat dihubungkan dengan makanan yang sehat.
2. Meningkatkan perbaikan konsep diri, termasuk gambaran diri, harga diri.
3. Mendorong pelaksanaan kesehatan untuk memberikan kontrol berat badan sepanjang hidup.

TUJUAN PEMULANGAN
1.      Pola makan sehat dan kontrol berat badan teridentifikasi
2.      Penurunan berat badan mencapai tujuan yang dibuat
3.      Persepsi positif terhadap pernyataan diri
4.      Merencanakan untuk kontrol masa depan memelihara berat badan.

5.      Evaluasi
a.       Klien memahami Nutrisi tubuh normal yang dibutuhkan oleh tubuh
b.      Klien dapat mengikuti program diet yang telah dibuat bersama
c.       Klien mengalami penurunan berat badan sesuai dengan target yang direncanakan.











BAB III
 PENUTUP
A.    Kesimpulan
                        Kegemukan ( obesitas )didefinisikan sebagai kelebihan akumulasi lemak rubuh sedikitnya 25% dari berat rata-rata untuk usia., jenis kelamin, dan tinggi badan. Prognosis umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk. Namun, keinginan pola hidup lebih sehat Dn penurunan factor risiko sehubungan dengan ancaman penyakit terhadap hidup memotivasi beberapa orang untuk mengikuti diet dan program penurunan berat badan.Obesitas juga merupakan suatu keadaan patologis dengan terdapatnya penimbuan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Masalah gizi karena kelebihan kalori biasanya disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan serat dan mikro nutrien.
Obesitas terjadi karena adanya  kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%).
Faktor yang menentukan antara lain :
                  a.. Faktor Genetik
b.Faktor Psikologis (gangguan emosi)
c. Faktor Neurogenik ( gangguan hormon)
d. Faktor Nutrisi
e. Aktivitas fisik
B.  Saran
Saran saya sebagai penyusun askep ini :
1.   Di dalam menentukan intervensi keperawatan telebih mengenai program diet, harus lebih banyak berdiskusi dengan klien.
2.   Untuk klien dengan obesitas, harus lebih mengutamakan pengaturan pola makan yang baik untuk menghindari kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
3.   Dalam perawatan klien, sebaiknya banyak melibatkan orang terdekat klien, mulai dari keluarga,, mulai dari keluarga,abat samapi teman akrab klien.



















DAFTAR PUSTAKA

Guytion & Hall, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC
Kapita Selekta Kedokteran Edisi Jilid Kedua, Media Aesculapius, FKUI 2000
Doengoes, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000
NANDA, Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2005-2006

Barbara C long. (1996). Perawatan Medical Bedah. Pajajaran Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar